Juli empat belas dua ribu delapan

Juli, bulan pencobaan buat ortu yang anaknya pertama kali mengenal sekolah. Ya, hari itu pertama Emilia, anak kedua, si bungsu mengenal sekolah, baru tingkat “playgroup” sih.

ini tasku...

ini tasku...

Pengalaman yang sungguh unik pasti membekas di benaknya. Harapanku  juga ibunya tentunya semoga hari itu menyenangkan yang memberi jalan yang lancar untuk proses ajar belajar dia kelak. Hari pertama anak masuk sekolah biasanya diwandai dengan kerewelan pun pula derai tangis anak. Biasanya. Tapi tidak berlaku bagi Emilia, malah sebaliknya, “Sekolahnya enak, gurunya ga galak kok Yah, jawab anakku. Dalam hatiku, baguslah ga nangis apalagi minta ditemeni ibunya hehehe. Nah ini yang menyenangkan tidak menangis ada sih sedikit takut-takut tapi semuanya cair setelah gurunya berlaku lembut pada anak-anak. Yang nangis ada tidak? Ya, pasti ada, la kok malah laki-laki yang rewel kebanyakan…. hehehe Yang perempuan ‘anteng aja”… Yang laki malah ga pede : ). Aku, ayah Lia, ikut mengantar pun pula istriku,

dibela-belain ambil cuti untuk mengantar sekolah. Takut, nangis mungkin. Tapi ga nangis tuh Lia. Beda dengan kakaknya yang laki, bertolak belakang, tidak jelek sih nangis di waktu pertama sekolah.  Aku dulu juga begitu kok hehehe…

Malah, sekarang tiap di goda tidak boleh sekolah Emilia marah malah nangis. Semoga lancar sekolahmu nak. Jangan kayak ayahmu… hiks… ga lulus terlalu asik cari duit.

bye...see u soon ayah...

bye...see u soon ayah...

catatan: Jangan pernah memaksa anak untuk mengikuti kemauan kita (ortu). Biarkan anak memilih yang nyaman bagi diri mereka sendiri. Itu kuncinya. 

)

sampun… see ya…

Tiga hari di Bandung

Mas, kamu di beri tugas untuk memperkaya ilmu ke Bandung? Mau? Jawabanku singkat,” Mau, sudah lama aku tidak menginjak tanah pasundan lebih dari dua hari.” Masih ingat dulu berjalan kaki menyusuri jalan Dago untuk mendaftar di sekolah terkenal si negeri ini. Sayang usaha keras dan teriring doa Ibu kandas. Sedih itu pasti. Perasaan Nglokro sedikit bisa teratasi. Penyesalan tidak ada gunanya. Mungkin jalan hidupku bukan melalui sekolah itu. Paling tidak pekerjaan sekarang masih berhubungan dengan bidang studi sekolah yang ingin saya raih itu.

Ah, sudahlah masa lalu itu memang enak untuk diingat-ingat sekali-sekali. Kalau ingat terus ya bodo itu.

Tiga hari di bandung, siang tugas kantor, malam jalan-jalan. Hari pertama. Makan di Ceu Man di Braga, makan gule sapi lauk empal segede paha bayi. hehehe. Kalau sendiri gak abis itu empal. Nah asiknya sebelahnya ada yang jual nasi edan, cuman aku terlanjur makn gule. Sudah kenyang banget. Selesai makan jalan lagi ke BIP, menyusuri Braga yang full karaoke-shop. Sayang malam belum larut, jadi wisata mata kurang berkenan. Menyusuri jalan ke BIP lumayan jauh. Hanya satu yang aku tahu berbeda, jalan di bandung malam hari adem. Jalan di Jakarta malam hari sama dengan mandi keringat! Itu bedanya.

Hari Kedua, makan nasi campur bali di daerah Cihampelas Bawah. Lumayan unik rasanya. cuman dua puluh ribu. Lumayan mahal juga, la wong jatah makan cuman sepuluh rebu dari bini. Hihihi. Gampang, nanti bilang ke bini membeli suasana kok buk. Jawaban yang mudah bukan. Tanpa kita sadari kita sering membelanjakan uang terutama untuk membeli suasana jika kita pergi ke resto, cafe atau warung kakilima. Suasana yang membuat kita larut dalam kenangan masing-masing pengalaman dalam hidup. harga yang pantas kita keluarkan jika suasana kena dengan mood kita. Itu yang terjadi selama tiga hari di Bandung. Kerja sekaligus membeli suasana khas bandung yang pastinya hinggap terus di benak kita. Pernahkan anda merasakan hal yang sama. Membeli suasana bukan makanan atau minuman. sesuatu yang abstrak yang menjadikan kita senang dan bahagia. Tapi ingat kalo sudah berumahtangga mending ke Bandung bersama pasangan. Bukan ingin selingkuh. Tapi kayaknya garing kalo pergi sendiri… Percayalah!

Kenapa mojang Bandung geulis-geulis ya? Pertanyaan yangtak berkesudahan…

Atur nuhun…matur nuwun…

Ulang Tahun istriku di bulan Mei

Pasti setahun sekali kita merayakan ulang tahun, bukan? Bahwa dirayakan dengan mewah atau tidak tergantung kemampuan keuangan masing-masing yang berulang tahun. Bulan Mei ini kebetulan seseoarang yang aku cintai, ibu dari anak-anakku, berulang tahun. Sungguh tidak terasa tahun demi tahun usia bertambah, tidak berkurang juga persoalan dalam hidup begitupun berkah rejeki tidak berkurang pula.

Bertambah usia kadang membuat perempuan dilanda kerisauan? Menjadi tua dan keriput adalah momok sebagian besar perempuan, pria sebetulnya juga sih? Hanya, sokongan dari suami yang membuat istri “tatag” menghadapi usai yang makin bertambah. dengan rasa sayang dan kasih aku mencoba memberikan kepada istriku. Tua tidak membuat aku, suamimu, meninggalkanmu, yakinkan itu di hati dan tanamkan di benakmu istriku. Apapaun yang ada aku, masih suami bapak dari kedua buah hati kita. Masih panjang perjalanan yang bakal kita tuntaskan, hanya ajal yang bakal memisahkan badaniah kita nanti.

Tidak usah risau dengan tua… kita berdua menjalani tua itu.

Selamat ulang tahun istriku, Ning!

Dari suamimu.

Lagunya enak, easy listening!

Setelah lama tenggelam urusan keluarga di Yogya bulan Maret yang telah lewat. Akhirnya aku dapat merasakan kemablai energi bening di kepala, terasa enteng dan jernih, berpikir dan bertindak rasanya mendapat berkah dari “Gusti” yang punya jagad. Sebelumnya, wah, kayak mau pecah, marah adalah saluran yang pas waktu itu. Ucap terimakasih ke Tuhan, juga mas dan mbakku bersama mengatasi keruwetan sesaat masalah keluarga, moto bersama kita bisa ternyata ampuh. Kepentingan masing-masing pihak pun terpenuhi.

Oalah, kalau cuma bundet ruwet kehidupan bila kita mau terbuka dan jernih tertangani dan teratasi. Maka marilah kita mencoba berpikir jernih jangan polos, bertindak bijak jangn grusa-grusu, hasilnya senyuman selalu menghias wajah karena permasalahn yang timbul terselesaikan.

Mas, pak, mbah judulnya Lagu enak ”ga nyambung sama tulisannya” teriak teman kantor yang ikut membaca.

“ya, ada bacanya yang ”tutug”, tahu arti tutug= selesai dari awal sampai akhir, ” begitu aku menjawab.

Nah, ini pasti sudah “nyambung” bodi text dengan judul : )

Karena sudah berasa enteng pikiranku maka aku mendengarkan lagu-lagu anak muda sekarang kok rasanya enak aja, mengalir begitu. Contoh, bukan iklan, utopia album indah atau the fly new formasi juga album rebecca kata hati.

Sebelumnya jarang mendengarkan lagu-lagu pop indonesia, la wong dengerin campur sarinya manthous…

Sudah nulisnya pokoknya hati dan pikiran senang hidup serasa lebih hidup.

Silakan mendengarkan lagu yang sampean suka…

Sampai jumpa, ayahdeosabat.

Yogya tambah panas

Yogyakarta panas dan gersang.
Kota yang konon pengendara motor (bikers) berbelok tanpa “ngedipin” lampu “sein”.
Kalo di Jakarta, kayak bang bajaj, berbelok sungguh “menawan hati” tanpa tedeng aling-aling, langsung “mak wus belok”, celakah pengendara dibelakangnya. Sport jantung jadinya. Pernahkah sampean ngalamin hal sedemikian itu, saya yakin 90% warga batavia dan sekitar pernah mengalami.
Ada yang bilang itu memacu “adrenalin”, halah! Bahwa hasil akhir ente yang “ngejuprek di jalan” itu sih apes namanya… hahaha kata teman sejawat saya.
Bukan membandingkan bikers Yoja dengan sopir bajay.
No offence ya mas/mbak…
Wong mau nulis Yogya makin panas kok malah nulis rider motor sih.

Kembali ke topik Yogya tambah puanas.
Dibanding sewaktu kecil, kota YK masih banyak pohon-pohonan, Depan rumah dulu ada pohon yang tinggi besar (wit Johar?), jalan masih terbagi antara jalur cepat dengan jalur lambat.Di tengah itulah di tanam pohon-pohon. Dan tiap sore banyak warga sekitar bermain di jalur lambat. Dari balita ampeg wong tuwek. Sungguh nyaman waktu itu.

Bandingkan sekarang jalan depan rumah cuman aspal… aspal… aspal… Mau tanam pohon. Sisa jalan untuk pedestrian di semen beton. Pantes yogya panas yach… “Mbok yao” pemda Yogya berupaya menanam pohon. Bukan tanam tanaman spt di pot-pot depan benteng Vredeburg itu. Gak asik. Nah kalo kayak “puun” beringin itu baru asik.

Buat petisi dong mas/mbakwarga yogya intinya mendesak pemda Yogya tanam pohon. Biar asri hijau dan “adem”.
Wis yo… tutuge suk maneh…
ayahdeo

Ayah menikah lagi…

Menikah adalah tujuan setiap orang yang hidup wajar, tidak bisa dipungkiri.
Jika seseorang menolak untuk menikah pasti mempunyai alasan yang cukup kuat, bukan?
Entah itu menjadi romo yang selibat atau alasan lain.
Menikah itu harus berdasarkan saling cinta. Bukan karena paksaan salah satu pihak pelaku nikah. Kadar cinta mencintai adalah unik untuk setiap orang.
Kadang cinta bagi sebagian orang sangat mudah di pihak lain sukar.
Bagi sebagian orang yang sudah pernah merasakan suka duka pernikahan.
Menikah kembali pasti ada tujuan yang ingin diraih, jikalau menikah kembali dilakukan pada rentang umur yang masih muda umum menilai mereka belum dewasa. Walaupun kadar kedewasaan orang berbeda.
Apabila menikah kembali di umur yang cukup tua 70 keatas alasan yang masuk akal adalah menjauhi dari rasa sepi.
Alasan itulah yang diungkapkan ayah meminta persetujuanku, anaknya.
Hanya kata ini yang terucap dari mulutku,” kalau itu yang membuat bapak bahagia anak-anak tidak keberatan.” Dan bulan Maret tanggal dua puluh enam tahun dua ribu delapan tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit, resmi sudah bapak mengakhiri status duda.
Anakmu hanya bisa mengucapkan selamat menempuh hidup baru.
Semoga bahagia selalu menyertaimu selalu.

Aku lupa tulisan depan itu milikku atau bukan?
Maafkan saya…

anakmu! Ayah deolia
batavia 26.03.2008.08:30

Nocturno dan aku

Nocturno - Sapardi Djoko Damono

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap…

Sajak itu masih bisa kubaca dengan jelas di sebuah sampul kaset rekaman grup jazz Acoustic Alchemy. Sajak yang masih mengharu biru rasa hatiku. Kenangan itu masih tersimpan rapi di diriku.
Sampai ajal menjemputku pun sajak itu berkibar menjadi abadi…
Aku mati…

Buat ia si manis geulis, kutulis menjelang siang di akhir pekan.

Jaga kesehatan ya Bu! Musim hujan!

PowerPC Is Death!

Terinspirasi dengan nama grup band lokal asal pulau Dewata (red.kalo salah tolong diralat) yang mengusung musik pop alternatif.
Bukannya mau omong tentang musik atau selera musik atau nulis ttg permusikan. Bukan.
Wong omong cuman mau woro-woro bahwa mulai tanggal 26 Februari 2008 Macintosh ber Operating System 8.5 tipe Power Macintosh G3 atau berjuluk Power PC mati. Karena sudah uzur dan susahnya mencari software. Secara klinis telah disahkan oleh bagian IT. Mati tidak bisa digunakan lagi.
Maka saya bersedih sekaligus berbahagia terbebas dari rongrongan PowerPC yang sudah uzur yang suka ngelantur kalo diajak kerja kadang pikun mousenya mati mendadak atau tiba-tiba macet mogok istilah kerennya “HENG”.
Pokoknya harus direlakan berpisah.
Jadi pas kalo judul diatas “Power PC is Death-kan?”
“Terus gantinya apa mas?”, tanya teman sebelah. “Ya menunggu, mas!” jawabku.
‘Ohhh begitu ya…” “La iya to mas, mau apa lagi”
Jadi hari-hari ini saya lebih banyak menunggu, menunggu dan menunggu. Bosan dong? Ah, enggak buat biasa saja…
Setelah berjasa menemani bekerja selama lima tahun PowerPC itu harus dipinggirkan persis seperti rakyat kecil yang terus dipinggirkan oleh bapak-bapak yang incumbent itu.
Selamat berpisah PowerPCku…

aku yang ditinggalkanmu…

wawan

Saya Mimpi Merokok Semalam

Mimpi yang aneh adalah kata yang pas ketika bangun tidur pagi itu. Bagaimana tidak janggal, kebanyakan orang bermimpi tentang suatu hal yang mewah dan/atau indah. La kok cuman bermimpi merokok.
Mimpinya cemen banged, tapi kalau digathukke usaha berhenti merokok  bulan Januari yang lalu, ada sih hubungannya.Jelas malah!

Konon, hal itu adalah dorongan bawah sadarku.

Konon, sebagian jiwa & ragaku yang masih diselimuti nikotin masih nagih… Begitu lurs dulurs.
Yang jelas aku berhenti merokok hampir menjelang dua bulan masih banyak gangguan yang dapat menghentikan perilaku tidak sehat itu.Hihihi baru sadar setelah dua puluh tahun teracuni rokok.
Dorongan dari istri dan anak-anak yang menguatkan niatku berhenti merokok hingga detik ini kutuliskan mimpi itu.
Masih kuat akan niat berhenti merokok selamanya till the rest of ur whole life, wan!
Yup! Ya sampai sisa hidupku.

MAU?

Jawabku tegas,” Ya.”

no smoking

Bali wae nang yoja!

yup…

“bali” dalam pengertian orang berbahasa jawa adalah “pulang”.

Ya, aku pulang ke yoja bersama anak dan istri, cuman empat hari tapi persiapan seperti pindahan rumah. Maklum anakku dua, dan keduanya minta pokoknya baju yang disukai harus ikut “dipak”, maksudnya di taruh di koper.

Ya daripada ribut orangtua ya nurut kemauan anak saja. Toh cuman uborampe bocah.

“Hore…kita naik kereta api”, teriak deo senang, adiknya ikut bernyanyi,” tut…tutt.. tuuttt, naik kereta api tut…tut…tut…

Begitulah bocah gampang gembira begitu juga gampang sedih.

setelah berjam-jam naik kereta, mulailah, omelan, protes dari si sulung. “Kok…keretanya gak nyampe-nyampe…buk”?.

Ibunya bilang,” sabar”. Setelah berpuluh-puluh kali bertanya si deo kecapean dan tidur.

Jam menunjukkan 16.20 kereta sampai di Tugu Yoja. Wuihh tumben tepat waktu.

Karena sudah booking hotel di dagen hanya transport becak yang memungkinkan. Jadilah kita “turis” naik becak.

Ongkos sepuluh ribu, lumayan mahal kalo melihat jarak yang cukup dekat. Tapi, yo wis…ga papa.

Becak…becak… coba bawa saya… ingat lagu kanak-kanak jaman dulu.

Nyampe di hotel terus tidur…zzZZZZZZZZZZZZZZZ

foto mertua, anak bungsu dan istri!