Yogya tambah panas

Yogyakarta panas dan gersang.
Kota yang konon pengendara motor (bikers) berbelok tanpa “ngedipin” lampu “sein”.
Kalo di Jakarta, kayak bang bajaj, berbelok sungguh “menawan hati” tanpa tedeng aling-aling, langsung “mak wus belok”, celakah pengendara dibelakangnya. Sport jantung jadinya. Pernahkah sampean ngalamin hal sedemikian itu, saya yakin 90% warga batavia dan sekitar pernah mengalami.
Ada yang bilang itu memacu “adrenalin”, halah! Bahwa hasil akhir ente yang “ngejuprek di jalan” itu sih apes namanya… hahaha kata teman sejawat saya.
Bukan membandingkan bikers Yoja dengan sopir bajay.
No offence ya mas/mbak…
Wong mau nulis Yogya makin panas kok malah nulis rider motor sih.

Kembali ke topik Yogya tambah puanas.
Dibanding sewaktu kecil, kota YK masih banyak pohon-pohonan, Depan rumah dulu ada pohon yang tinggi besar (wit Johar?), jalan masih terbagi antara jalur cepat dengan jalur lambat.Di tengah itulah di tanam pohon-pohon. Dan tiap sore banyak warga sekitar bermain di jalur lambat. Dari balita ampeg wong tuwek. Sungguh nyaman waktu itu.

Bandingkan sekarang jalan depan rumah cuman aspal… aspal… aspal… Mau tanam pohon. Sisa jalan untuk pedestrian di semen beton. Pantes yogya panas yach… “Mbok yao” pemda Yogya berupaya menanam pohon. Bukan tanam tanaman spt di pot-pot depan benteng Vredeburg itu. Gak asik. Nah kalo kayak “puun” beringin itu baru asik.

Buat petisi dong mas/mbakwarga yogya intinya mendesak pemda Yogya tanam pohon. Biar asri hijau dan “adem”.
Wis yo… tutuge suk maneh…
ayahdeo

Leave a Reply