Mas, kamu di beri tugas untuk memperkaya ilmu ke Bandung? Mau? Jawabanku singkat,” Mau, sudah lama aku tidak menginjak tanah pasundan lebih dari dua hari.” Masih ingat dulu berjalan kaki menyusuri jalan Dago untuk mendaftar di sekolah terkenal si negeri ini. Sayang usaha keras dan teriring doa Ibu kandas. Sedih itu pasti. Perasaan Nglokro sedikit bisa teratasi. Penyesalan tidak ada gunanya. Mungkin jalan hidupku bukan melalui sekolah itu. Paling tidak pekerjaan sekarang masih berhubungan dengan bidang studi sekolah yang ingin saya raih itu.
Ah, sudahlah masa lalu itu memang enak untuk diingat-ingat sekali-sekali. Kalau ingat terus ya bodo itu.
Tiga hari di bandung, siang tugas kantor, malam jalan-jalan. Hari pertama. Makan di Ceu Man di Braga, makan gule sapi lauk empal segede paha bayi. hehehe. Kalau sendiri gak abis itu empal. Nah asiknya sebelahnya ada yang jual nasi edan, cuman aku terlanjur makn gule. Sudah kenyang banget. Selesai makan jalan lagi ke BIP, menyusuri Braga yang full karaoke-shop. Sayang malam belum larut, jadi wisata mata kurang berkenan. Menyusuri jalan ke BIP lumayan jauh. Hanya satu yang aku tahu berbeda, jalan di bandung malam hari adem. Jalan di Jakarta malam hari sama dengan mandi keringat! Itu bedanya.
Hari Kedua, makan nasi campur bali di daerah Cihampelas Bawah. Lumayan unik rasanya. cuman dua puluh ribu. Lumayan mahal juga, la wong jatah makan cuman sepuluh rebu dari bini. Hihihi. Gampang, nanti bilang ke bini membeli suasana kok buk. Jawaban yang mudah bukan. Tanpa kita sadari kita sering membelanjakan uang terutama untuk membeli suasana jika kita pergi ke resto, cafe atau warung kakilima. Suasana yang membuat kita larut dalam kenangan masing-masing pengalaman dalam hidup. harga yang pantas kita keluarkan jika suasana kena dengan mood kita. Itu yang terjadi selama tiga hari di Bandung. Kerja sekaligus membeli suasana khas bandung yang pastinya hinggap terus di benak kita. Pernahkan anda merasakan hal yang sama. Membeli suasana bukan makanan atau minuman. sesuatu yang abstrak yang menjadikan kita senang dan bahagia. Tapi ingat kalo sudah berumahtangga mending ke Bandung bersama pasangan. Bukan ingin selingkuh. Tapi kayaknya garing kalo pergi sendiri… Percayalah!
Kenapa mojang Bandung geulis-geulis ya? Pertanyaan yangtak berkesudahan…
Atur nuhun…matur nuwun…
Filed under: People